Refleksi Perjalanan Panjang 2019

Muhammad Azis Husein
7 min readDec 31, 2019
Stephen Hawking Quotes
Kota Tua, Indonesia

Tahun 2019 mungkin bukan tahun terbaik bagi saya. Akan tetapi tahun 2019 cukup membuat saya merasa sangat bersyukur. Bersyukur bukan karena mendapat indeks prestasi sempurna dalam perkuliahan, bukan karena mendapat harta berlebih, dan bukan juga karena mendapatkan sesuatu yang saya kejar, tapi karena banyak hal-hal baru, tantangan-tantangan baru, permasalahan-permasalahan baru, dan orang-orang baru yang Allah hadirkan dihadapan saya yang semakin membuat saya tergugah untuk terus belajar menjadi pribadi yang lebih baik lagi setiap harinya.

Tulisan ini saya buat sebagai bentuk refleksi bagi diri saya untuk terus menjadi lebih baik pada tahun-tahun setelah 2019, khususnya tahun 2020. Saya tergugah untuk menulis tulisan ini karena menurut saya dengan menuliskan pemikiran saya, saya dapat terus mengingat pemikiran tersebut, sehingga ketika kondisi mental saya sedang menurun, saya dapat mengingat-ingat kembali perjalanan panjang yang telah saya lalui hingga saya bisa sampai di titik ini.

Bagi saya, setiap detik yang saya lalui dalam hidup saya adalah sebuah pembelajaran yang sangat berharga. Entah apapun bentuknya, bisa jadi sebuah kesalahan, kegagalan, kecerobohan, pencapaian, keberhasilan, ataupun sebuah pertemuan, itu semua adalah hal-hal yang cukup berperan dalam membentuk cara saya berpikir. Begitu juga detik demi detik di tahun 2019, banyak sekali kejadian-kejadian yang membuat saya semakin banyak belajar.

Ada beberapa pelajaran penting yang berhasil saya ambil dari tahun 2019. Mungkin saya akan membagikan beberapa pelajaran yang saya rasa cukup relevan untuk dibagikan. Pada tahun 2019 ini, kebetulan saya diberi kesempatan untuk menjadi staf di Departemen Kajian dan Aksi Strategis BEM Fasilkom UI 2019. Salah satu tugas saya adalah untuk menyelenggarakan diskusi publik yang membahas mengenai isu sosial politik yang kami beri nama dengan ‘Obrolan Santai’ atau biasa kami sebut dengan istilah ‘OS’. OS ini sebenarnya sebuah program yang cukup simpel, tapi menurut saya banyak ilmu yang dapat diperoleh dari pengalaman menyelenggarakan diskusi publik seperti OS ini.

Sebelumnya, izinkan saya untuk menjelaskan seperti apa itu OS yang sudah saya sebut sebelumnya. OS adalah sebuah diskusi publik yang membahas mengenai isu sosial politik yang dikemas secara santai. OS biasanya akan mengundang narasumber yang berpengalaman di bidang sosial politik dan akan diajak berdiskusi bersama setelah narasumber menyampaikan materi yang ingin mereka sampaikan.

Obrolan Santai 1

Dokumentasi Obrolan Santai 1
Dokumentasi Obrolan Santai 1

Di tahun 2019, Departemen Kajian dan Aksi Strategis BEM Fasilkom UI 2019 berhasil menyelenggarakan empat kali Obrolan Santai. OS pertama berhasil kami laksanakan pada tanggal 4 April 2019, saat itu kami mengangkat tema Pemilu 2019. Kami membawa tema tersebut mengingat tahun ini adalah tahun politik di mana pesta demokrasi lima tahunan akan dilaksanakan. Pesta demokrasi yang seharusnya menjadi ajang evaluasi untuk pemerintah sekaligus untuk oposisi agar kedepannya dapat menjalankan perannya lebih baik lagi demi kemajuan bangsa ini, malah banyak ternodai dengan ujaran kebencian dan berita bohong hanya karena fanatisme pada golongan tertentu. Dari keresahan tersebutlah kami berinisiatif untuk mengangkat tema Pemilu 2019.

Dari Obrolan Santai tersebut dan dari berbagai kejadian di 2019 ini, saya mendapatkan suatu pelajaran bahwa memilih pemimpin itu bukan hanya berlandas fanatisme buta, tapi harus tau jelas arah geraknya ke mana? Karena seorang pemimpin bangsa akan berpengaruh besar dalam menentukan nasib rakyatnya, maka dari itu kita harus benar-benar kritis terhadap rancangan besar yang ada di dalam pikiran calon pemimpin kita. Saya juga belajar bahwa perbedaan adalah sebuah keniscayaan. Kita tidak mungkin memaksakan semua orang untuk memilih apa yang kita pilih, kita tidak mungkin memaksakan semua orang berpikir sama seperti cara kita berpikir, maka dari itu tidak ada guna jika kita hanya fokus kepada perbedaan yang ada. Jika mengingat arti dari Bhinneka Tunggal Ika, “berbeda tapi tetap satu”, dapat dibilang seharusnya kita tidak terfokus pada poin perbedaannya, tapi poin persatuannya. Di mana yang harus kita perhatikan adalah hal apa yang dapat menyatukan kita? Bukan hal apa yang harus sama dengan kita?

Obrolan Santai 2

Obrolan Santai kedua diselenggarakan pada tanggal 30 April 2019. Pada kesempatan tersebut, kami mengangkat tema tentang data pribadi. Di era teknologi seperti saat ini, manusia seakan memiliki ketergantungan terhadap ponsel cerdas ataupun komputer yang mereka miliki. Perkembangan teknologi yang sangat pesat telah memungkinkan sebuah mesin untuk mengolah dan menganalisis data secara otomatis. Sayangnya, masih banyak oknum yang tidak bijak dalam memanfaatkan data-data yang mereka miliki, yang pada akhirnya menyebabkan tersebarnya data pribadi milik sebagian orang. Karena keresahan tersebut, maka kami tergugah untuk mengangkat isu mengenai data pribadi ini.

Sebelumnya, izinkan saya untuk menerangkan apa yang dimaksud dengan data pribadi. Data pribadi adalah sebuah atau sekumpulan data yang dianggap melekat pada diri seseorang yang menjadi identitas seseorang tersebut atau data yang bersifat pribadi dan tidak untuk dipublikasikan atau diketahui orang lain. Dalam hal ini, setiap manusia memiliki perspektifnya masing-masing dalam menentukan sejauh mana data tentang dirinya yang dianggap pribadi.

Dari diskusi kali ini ditambah berbagai pengalaman di tahun 2019, saya mendapatkan pengetahuan bahwa di era digital seperti saat ini, hampir semua gerak-gerik kita dapat diketahui oleh orang lain. Mulai dari ke mana saja kita pergi dalam sehari, apa saja yang sedang kita cari, momen apa saja yang kita abadikan, yang dapat secara otomatis terbaca oleh G**gle. Mulai saat itu, saya menjadi lebih berhati-hati dalam menggunakan aplikasi-aplikasi yang ada. Saya menjadi berpikir dua kali untuk mengizinkan suatu aplikasi mengakses data pada ponsel pintar yang saya miliki.

Obrolan Santai 3

Dokumentasi Obrolan Santai 3

Pada diskusi kali ini, kami mengangkat tema tentang peran besar teknologi dalam pergerakan mahasiswa. Kami melihat bahwa di era seperti saat ini, pergerakan bukan lagi hanya sekedar kepala tangan dengan baju berwarna hitam. Akan tetapi pergerakan harus beradaptasi dengan kondisi masyarakat dan bangsa yang telah berevolusi. Pada diskusi kali ini dibahas mengenai awal mula terbentuknya pergerakan mahasiswa dan segala problematikanya. Dimulai dari awal Orde Baru di mana mahasiswa memiliki kedekatan dengan rezim karena berhasil meruntuhkan Orde Lama, hingga masa-masa reformasi seperti saat ini. Mungkin untuk cerita lebih lengkapnya akan saya bahas dalam tulisan khusus lainnya.

Pelajaran yang dapat saya ambil dari sini adalah bahwa sebuah pergerakan tidak sepantasnya dibatasi oleh sekat-sekat yang membatasi elemen-elemen di dalamnya. Sebagai seorang mahasiswa, tidak seharusnya kita mengglorifikasi status kemahasiswaan kita hanya untuk kebanggaan pribadi semata. Sebagai seorang mahasiswa, bukan berarti kita memiliki kelas yang lebih istimewa dari rakyat biasa. Pemikiran-pemikiran yang menjustifikasi keistimewaan mahasiswa hanya akan memisahkan mahasiswa dari masyarakat yang seharusnya dibersamainya. Maka dari itu, kita harus membuang jauh-jauh egoisme dalam diri kita yang berpotensi memisahkan pergerakan mahasiswa dengan pergerakan masyarakat.

Aksi Massa

Dokumentasi Aksi 24 September 2019

Di tahun 2019 ini, saya sempat mengikuti beberapa aksi massa, salah satunya adalah aksi massa pada tanggal 24 September 2019. Saat itu kebetulan saya diberikan tugas untuk membawa panji fakultas saya yang berguna untuk menjadi acuan untuk arah bergerak massa aksi. Dari beberapa aksi massa yang sempat saya ikuti, saya semakin belajar bahwa kita hakikatnya adalah seorang rakyat. Terlepas dari apapun jabatan kita, apapun status kita, sejatinya kita lahir sebagai seorang rakyat. Sebagai seorang rakyat yang dilahirkan dan dibesarkan di Indonesia, saya merasa kita memiliki tanggung jawab untuk peduli terhadap nasib bangsa ini.

Karena kita memiliki tanggung jawab tersebut, maka sudah seharusnya kita tidak boleh tunduk pada ketidakadilan. Dalam prosesnya, pemerintah memang bukanlah makhluk yang sempurna, terkadang pasti ada sesuatu kealpaan yang mereka lakukan. Sudah tugas kita sebagai rakyat untuk selalu mengingatkan dan memberikan aspirasi kepada mereka ketika terjadi kealpaan dalam pengambilan keputusan ataupun pembuatan kebijakan. Kita harus terus menjaga amanat reformasi yang sudah diperjuangkan oleh pendahulu kita di tahun 1998 yang mungkin sebagian dari mereka saat ini sudah duduk di bangku-bangku pemerintahan.

Salah satu bentuk kepedulian yang dapat kita lakukan adalah dengan mengkritisi kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh pemerintah. Mengkaji kembali apakah kebijakan-kebijakan yang ada sudah berpihak pada rakyat secara keseluruhan atau hanya rakyat-rakyat elit saja. Memastikan kembali bahwa kebijakan-kebijakan tersebut sudah sesuai atau belum dengan dasar negara kita dan norma-norma yang ada di negara kita. Aksi massa pada tanggal 24 September 2019 kemarin menjadi salah satu contoh bentuk kritik masyarakat terhadap kebijakan yang diambil oleh pemerintah. Dari situ kita dapat melihat bahwa masyarakat dari berbagai elemen kelas dan berbagai kalangan bersatu padu demi memperjuangkan hak-hak yang seharusnya mereka dapat.

Beberapa peristiwa di atas mungkin terlihat biasa saja dan tak bermakna jika dipandang hanya dari sudut pandang yang biasa. Mari kita kembali kepada perkataan Stephen Hawking yang sudah saya cantumkan pada permulaan tulisan ini “Look up at the stars and not down at your feet. Try to make sense of what you see, and wonder about what makes the universe exist. Be curious.” Kita harus dapat memahami betul makna dari kejadian-kejadian yang kita alami. Kita harus terus menerus mencari tau dengan rasa keingintahuan yang tinggi tentang segala yang terjadi dalam kehidupan kita ini. Karena dengan modal itulah kita akan selalu mendapatkan pembelajaran dan evaluasi setiap harinya untuk menjadikan hari esok jauh lebih baik dari hari ini. Kita harus sadar bahwa untuk membuat hari esok lebih baik, kita tidak dapat menunggu hari esok, tapi prosesnya harus dimulai sejak hari ini. Maka, jadikanlah setiap hari dalam hidup kita bermakna karena makna yang kita rangkai walau sekecil apapun, percayalah suatu saat akan menjadi suatu rangkaian yang utuh yang jauh lebih baik dari apa yang kita harapkan.

Terakhir, untuk mengakhiri perjalanan panjang di tahun 2019, saya memiliki beberapa rencana besar untuk tahun-tahun berikutnya. Teruntuk siapapun orang yang membaca tulisan ini, saya mohon doakan saya dapat selalu berkembang lebih baik setiap harinya dan bisa mewujudkan apa yang sudah saya rencanakan untuk hari-hari berikutnya. Terimakasih untuk kita semua yang telah berjuang seoptimal mungkin di tahun 2019, semoga tahun ini lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya dan tahun-tahun berikutnya akan jauh lebih baik lagi.

--

--